18 Tuladha / Contoh Wewaler Bahasa Jawa Disertai Arti dan Maksud

Bagi Anda yang sedang mempelajari bahasa Jawa, bahasan wewaler sangat bagus untuk untuk Anda pelajari.

Mengenai pengertian wewaler, ia didefinisikan dengan : “Wewaler yaiku nasehat kang wujute larangan.” Maksudnya, ia merupakan sebuah keinginan baik seseorang kepada orang lain, namun orang itu mewujudkannya dalam bentuk sebuah larangan kepada orang lain tersebut. Dalam bahasa Indonesia, ia disebut pantangan.

Larangan yang dimaksud di sini adalah larangan dari melakukan hal-hal yang tidak pantas atau tercela. Dengan memberikan larangan ini, pembicara menginginkan lawan bicaranya agar di berbuat sesuatu yang lebih baik.

Supaya lebih paham, berikut ini contoh / tuladha wewaler dalam bahasa Jawa disertai teks artinya:

1. Aja Nganggo Klambi Ijo Utawa Biru Nalika Marang Pantai.

Arti: Jangan menggunakan baju berwarna hijau atau biru saat berada di pantai.

Menggunakan baju berwarna biru atau hijau itu tidak bagus saat di tepi lautan. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti terseret ombak, tim penyelamat (SAR) akan kesulitan menemukannya karena baju yang dia pakai warnanya mirip dengan air laut.

2. Ora Ilok Lungguh Nang Bantal, Mengko Udunen.

Arti: Jangan duduk di bantal agar tidak terkena penyakit bisul.

Larangan ini diberikan kepada orang yang suka duduk di atas bantal. Perbuatan ini dilarang karena menurut budaya Jawa, bantal itu adalah haknya kepala, bukan pantat.

3. Ora Ilok Ngewehi Banjur Njaluk Bali, Mengko Gulune Gondhoken.

Arti: Tidak baik jika kita memberi kemudian meminta balasan, takutnya terkena penyakit gondok.

Sifat ikhlash sangat penting dalam setiap perbuatan kita, termasuk saat kita bersedekah kepada orang lain. Meminta balasan atas sedekah yang kita lakukan tidaklah mencerminkan keikhlasan dan itu tidaklah baik.

Baca Juga: Senjata Tradisional Papua dan Penjelasannya

4. Aja Metu Sanding Kala, Mbokan Diculik Wewegombel.

Arti: Jangan keluar saat petang hari, supaya tidak diculik kuntilanak.

Waktu maghrib adalah waktu ibadah dan istirahat. Oleh karenanya, anak-anak diharapkan untuk berada di rumah pada saat itu.

5. Aja Ngidoni Sumur, Mengko Suwing Lambene.

Arti: Jangan meludah ke dalam sumur, takutnya mulut jadi sumbing.

Sumur adalah salah satu sumber kehidupan manusia karena air yang ada di dalamnya. Meludah ke dalam sumur dapat menyebabkan kotornya air sumur. Lebih-lebih jika orang yang meludah memiliki penyakit, maka ini akan membuat terjadinya penularan.

6. Ora Ilok Dolanan Beras, Mengko Tangane Kithing.

Arti: Tidak baik bermain beras, takutnya tangan jadi kiting.

Larangan ini diberikan kepada anak-anak yang suka bermain dengan beras. Perbuatan ini dapat menyebabkan beras menjadi kotor dan berceceran di mana-mana.

7. Aja Mangan Karo Ngadeg, Mbokan Wetenge Dawa.

Arti: Jangan makan sambil berdiri, takutnya perut jadi panjang.

Makan dengan berdiri bukan sesuatu yang sesuai adab dalam agama Islam dan adat ketimuran. Oleh karenanya, orang yang melakukan perbuatan ini sangat tercela.

8. Aja Tangi Kawanen Mundhak Rejekine Ditothol Pitik.

Arti: Jangan bangun kesiangan agar rejekinya tidak dipatok ayam.

Seseorang itu harus rajin. Bangun kesiangan adalah perbuatan malas yang dapat membuat ia terlambat dalam beraktifitas.

9. Yen Bar Madhang Tabete (Bekase) Disapu, Supaya Bisa Ngrumati Mantune

Arti: Kalau habis makan, hendaknya bekas disapu agar bisa merawat mantu.

Orang itu harus menjaga kebersihan, termasuk membersihkan bekas-bekas makanan. 

10. Yen Wayahe Bengi, Bocah Cilik Ora Kena Tabuhan Pager

Arti: Kalau sudah malam, anak kecil dilarang memukul pagar.

Sama seperti larangan bersiul, memukul pagar di waktu malam dapat mengganggu tetangga dan ini adalah perbuatan yang tidak baik.

11. Ora Ilok Singsot Wengi-Wengi, Amarga Iso Ngundang Setan.

Arti: Tidak baik bersiul malam-malam, sebab bisa mengundang setan.

Waktu malam adalah waktu istirahat. Bersiul malam-malam termasuk mengganggu karena dapat mengusik ketenangan malam.

12. Aja Mangan Ngarep Lawang, Mundak Jodone Angel.

Arti: Jangan makan di depan pintu, dikhawatirkan jodohnya sulit.

Pintu adalah tempat untuk keluar masuk. Seseorang yang makan di depan pintu dapat menghalangi jalan orang yang ingin keluar masuk.

13. Aja Nekuk Bantal, Mundak Jodone Keset Kerjo.

Arti: Jangan menekuk bantal, khawatirnya jodoh malas bekerja.

Larangan ini diberikan supaya seseorang tidak menekuk bantal karena dapat merusak bantal itu.

14. Aja Nyicip Jangan Ing Irus, Mundhak Ayune Keri Ing Irus.

Arti: Jangan mencicipi sayur langsung dari sendok sayur, khawatirnya kecantikan tertinggal di sendok sayur.

Selain ia tidak sesuai dengan fungsi dari sendok sayur, perbuatan seperti ini juga merupakan perbuatan yang jorok.

15. Ora Ilok Maem Nganggo Tutup Piring.

Arti: Tidak baik makan menggunakan tutup piring.

Seseorang itu hendaknya menggunakan barang sesuai dengan fungsinya. Tutup itu digunakan untuk menutup sesuatu, bukan digunakan untuk makan.

16. Yen Madhang Ora Usah Karo Ngombe, Mundhak Kekarepane Ora Kagayuh.

Arti: Kalau makan jangan sambil minum, khawatirnya apa yang diinginkan tidak dapat tercapai.

Ini konteksnya adalah ketika berlebihan dalam makan dan minum. Hal ini dapat mengganggu kesehatan sehingga tidak baik untuk dilakukan.

17. Yen Maem Kudu Dientekake, Yen Ora Mundhak Pitik Ing Kandhang Mati.

Arti: Kalau makan harus dihabiskan, khawatirnya ayam di kandang mati.

Perbuatan menyia-nyiakan makanan adalah perbuatan mubadzir. Perbuatan mubadzir adalah perbuatan yang tidak baik.

18. Aja Ngetoki Kuku Wengi-Wengi.

Arti: Jangan memotong kuku malam-malam.

Zaman dahulu, listrik masih jarang sehingga memotong kuku malam-malam dikhawatirkan akan menyebabkan luka.

Demikian contoh / tuladha wewaler dalam budaya Jawa yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Kalau ada tambahan atau sesuatu yang ingin disampaikan, beri komentar di bawah ya.

Tinggalkan komentar